Kamis, 03 September 2009

Celoteh tolol

Sering aku berpikir, apakah apa yang aku jalani ini benar? Setiap aku melangkahkan kaki, setiap tapak yang kutinggalkan seperti memanggil-manggil untuk kembali. Namun, aku tak kuasa untuk kembali karena tarikan keinginan dan tuntutan kehidupan yang begitu kuat menarikku ke dalam pelukan nafsu duniawi. Entah itu benar-benar hanya keinginan nafsu dunia ataukah karena memang realisasi kehidupan yang sudah benar-benar kompleks dengan segala macam tuntutannya sehingga mengharuskan aku harus senantiasa berpacu dengan waktu untuk mencari beberapa keping logam dan lembaran kertas yang bisa aku tukarkan dengan kebutuhan-kebutuhan hidupku dan keluargaku. Walaupun harus bertahan dalam kondisi yang sangat tak nyaman kurasa, namun aku tak pernah punya keberanian untuk beranjak pergi karena di satu sisi ada kewajiban menanti. Sampai-sampai kurasakan banyak kemunduran dalam fungsi organku karena sudah mulai digerogoti penyakit. Pastinya pola hidupku selama ini sudah banyak yang salah sehingga penyakit-penyakitpun mulai hinggap.
Entah, apakah ini merupakan peringatan ataukah sebuah ujian kehidupan yang harus aku hadapi, aku masih terus mencari jawab dari semua pertanyaan itu. Namun yang jelas, aku tidak boleh menyerah pada keadaan dan harus terus berjuang melawan semua kondisi yang tidak mengenakkan ini hingga tetes darah penghabisan. Karena aku tidak mau mengecewakan orang-orang yang aku sayangi. Aku ingin menunjukkan pada mereka bahwa aku akan membahagiakan mereka walaupun perih yang kurasakan telah sangat menyiksa. Dalam kebimbangan aku terus melangkah dan mencoba untuk terus berjalan meski terseok. Aku tidak akan berhenti sampai suatu saat nanti ajal menjemput dan nafasku putus.
Semoga saja Tuhan masih memberiku kekuatan dalam setiap hembusan nafasku agar aku bisa berguna dan berarti bagi semuanya. Dan semoga jalan terang dibukakan didepanku dan bisa aku tapaki dengan penuh suka cita.

Tabanan-Tuban pp, siapa takuuut...

Sebuah rutinitas baru saya lakoni terhitung mulai 15 Agustus 2009. Perjalanan Tabanan -Tuban (baca Denpasar) setiap hari harus saya jalani bersama si "belalang tempur" saya Yamaha F1ZR buatan 2003 (Fotonya dibawah, yang ngendarai itu modelnya khusus datang dari Palembang buat nyoba si "belalang tempur", wekekekek...). Dulu saya tinggal ngekos di Denpasar bersama istri, dan sekarang saya sudah tidak ngekos lagi. Saya mencoba sebuah suasana baru, dan memilih untuk tinggal di kampung halaman saya di Tabanan.
Perjalanan yang kurang lebih saya tempuh 1 jam berkendara dengan kecepan rata-rata 80 km/jam menuju tempat kerja telah membuat saya kembali ke kebiasaan lama bersama si "belalang tempur". Walaupun boleh dibilang sedikit suka ngebut dijalanan, tapi jangan salah lho... saya masih taat peraturan lalu lintas kok, contohnya; berhenti jika lampu merah, jalan jika lampu hijau, dan tancap gas saat lampu kuning biar tidak kena merah....ha..ha...ha...ha......
Kalau dipikir-pikir, rasanya memang cukup melelahkan pulang pergi Tabanan-Denpasar setiap hari. Bagaimana tidak, jarak yang ditempuh tiap hari kurang lebih 120-an km. Namun, setelah dilakoni, ternyata asyik juga. Mau tau asyiknya dimana?
Pertama kita liat dari segi positifnya dulu ya.... Pertama, saya jadi lebih terbiasa bangun pagi. Dulu saat masih ngekos di Denpasar, saya malas sekali bangun pagi. Kalau dulu bangunnya bisa Jam 07.15 sekarang dah bisa jam 06.15, hehehehe......selisih 1 jam lumayan kan....wakakakk...
Trus yang kedua, karena di kampung suhunya lebih dingin dari Denpasar jadi kalau mandi pagi selalu dibuatin air hangat, enak toh....??
Yang ketiga, kalau dulu makan siang selalu beli, sekarang bawa dari rumah... lumayan kan bisa ngirit barang 100-200rb sebulan...hehehehe......
Trus kalau pulang kerja (biasanya diatas jam 7 malam), sesampainya dirumah pikiran jadi lebih riang dan segar karena bisa berkumpul dengan keluarga. Disamping itu mungkin juga karena udaranya di rumah masih lebih bagus dibandingkan di Denpasar, makanya badan terasa lebih segar.

Tapi, walaupun banyak segi positifnya ternyata ada juga jeleknya pp Tabanan - Denpasar. Jeleknya kalau musim hujan dan kondisi lagi drop, rasanya males banget kalau mau berangkat kerja. Mana si "belalang tempur" kalau kena hujan deras bisa ngadat lagi, makanya kalau sudah cuaca tidak bersahabat seperti itu saya harus siap-siap mencari alternatif. Tapi semua itu masih bisa diatasi, dan semoga saja semuanya berjalan lancar-lancar saja...Mohon doanya ya....biar saya senantiasa selamat di perjalanan...

Kamis, 06 Agustus 2009

Andai aku dia

Malam itu aku pergi ke ATM dekat kantor tempat aku bekerja dengan tujuan mau mengambil beberapa rupiah yang tersisa di saldo rekeningku karena hari itu hanya tersisa 2 lembar pecahan seribu rupiah dan 1 lembar pecahan lima ribu rupiah di dompetku. Aku lihat hp ku, ternyata sudah menunjukkan pukul 19.30 wita. Disana ternyata telah ada 2 orang yang mengantri untuk mengambil uang di mesin yang sama dan beberapa orang lagi mengatri di mesin ATM milik bank yang lain. Aku mendapat antrian yang ketiga.Saat mengantri itulah,seorang pemuda bertubuh kurus, berkulit sawo matang, dengan pakaian yang agak rapi dengan sebuah tanda pengenal tergantung di lehernya, memakai sepatu walaupun sudah terlihat sedikit lusuh mendekatiku dan memberiku sebuah amplop putih yang bertuliskan nama sebuah yayasan dan himbauan untuk bersedekah kepada anak Yatim Piatu. Sejenak aku baca tulisan di amplop tersebut, dan ternyata sama saja dengan yang sering aku baca di amplop yang sering aku terima dari orang yang berbeda setiap kali antri di depan ATM itu. Kemudian aku perhatikan wajah pemuda yang memberiku amplop tadi. Aneh, biasanya aku acuh terhadap orang yang memberi amplop seperti itu sebelumnya, tapi kali itu berbeda. Terlihat raut wajah yang sepertinya menurutku sangat iba,sedih,dan kecewa manakala mengetahui bahwa orang yang keluar dari ruang mesin ATM yang dia harapkan mengembalikan amplop yang telah dia berikan sebelumnya dengan berisi lembaran uang didalamnya. Tapi apa yang dia terima, hanya sebuah kekecewaan karena orang yang keluar dari ruang mesin ATM itu tak mengembalikan amplopnya dan bahkan bersikap acuh,cuek,dan tidak menghiraukannya. Itu pasti bukan yang pertama kali iya temui pikirku. Ya, dari sekian banyak orang yang dia beri amplop,bisa dihitung dengan jari berapa orang yang mengembalikan dan memberi sedekah didalamnya.Dulu aku juga sering mengacuhkan orang yang memberi amplop seperti itu,karena berpikir apakah benar dana yang mereka kumpulkan itu nantinya akan diberikan pada anak yatim ataukah itu merupakan teknik mengemis gaya baru dari sekumpulan pengemis yang terorganisir dan lebih moderen (maaf, bukan maksudku merendahkan, tapi itu dulu yang terlintas dibenakku).Terlepas dari itu semua, malam itu aku benar-benar luruh melihat wajah pemuda lusuh itu. Pikiran negatifku yang pernah ada di benakku seakan-akan sirna melihat wajah pemuda itu. Wajah yang terlihat sedikit legam dan berdebu itu seperti menyiratkan perasaan yang sangat sedih ketika menerima kenyataan orang yang dia harapkan memberi isi pada amplopnya pergi dengan sikap acuh tak mempedulikannya. Saat itulah terlintas dibenakku, betapa menderita bathinnya saat menjalankan tugasnya itu. Aku sempat berpikir, bagaimana seandainya aku yang berada di posisinya, betapa menyakitkan rasanya kenyataan itu.Aku mencoba untuk berpikir positif dan percaya bahwa dana yang iya kumpulkan itu memang benar-benar untuk kegiatan sosial dan amal. Kemudian terpikir olehku, betapa mulianya mereka yang mau mengerjakan tugas tersebut. Mereka rela mengeorbankan perasaan,terhina,diacuhkan,atau bahkan mungkin lebih keji difonis sebagai pengemis modern seperti yang pernah aku pikirkan. Tapi ternyata walaupun begitu,mereka masih mau menjalani pekerjaan itu, mungkin karena kebesaran hati dan keikhlasan hati mereka untuk membantu anak-anak Yatim Piatu yang membutuhkan bantuan. Walaupun mungkin sebagian dari dana yang terkumpul itu tidak sepenuhnya disumbangkan, ya harus kita mengerti juga kalau dia juga manusia yang butuh makan. Tapi terlepas dari itu semua, masalah benar atau tidak dana yang ia kumpulkan itu untuk kegiatan amal, biarlah Tuhan yang akan memutuskan karmanya nanti. Setelah tiba giliranku masuk ke ruang mesin ATM,sambil menunggu uang keluar dari mesin aku selipkan selembar kertas seribu rupiah kedalam amplop yang aku terima tadi. Jangan dilihat jumlahnya, tapi aku benar-benar ikhlas memberikannya. Daripada memberinya sebuah kekecewaan dan penghinaan secara tidak langsung padanya,lebih baik aku kembalikan amplopnya walau hanya terisi selembar seribu rupiah didalamnya. Setelah keluar dari ruangan mesin ATM, aku berikan amplop itu padanya dan kemudian pergi bersama motorku pulang ke kosan dengan pikiran yang masih bergelayut. Andaikan aku yang menjadi dia, sangupkah..?!?!?!

Senin, 01 Juni 2009

Bersafari di Bali Safari Park

Hari sabtu yang lalu, saya bersama istri pergi jalan-jalan ke Bali Safari Park, yang berlokasi di sebelah barat pantai Lebih Gianyar kurang lebih 30 menit berkendara dari Denpasar. Tempatnya cukup strategis dan nyaman untuk dikunjungi.

Sesampai disana, setelah memarkir kendaraan, saya bersama istri menuju loket pembelian ticket. Harga tiket Rp.85.ooo per orang. Setelah itu kami masuk ke terminal penjemputan. Tak lama menunggu, bus pun datang menjemput dan mengantarkan kami ke terminal lobby barong.
Di lobby barong kita bisa melihat-lihat ikan di dalam akuarium dinding. Ada ikan piranha dan arwana di dalam akuarium yang airnya jernih, bagus sekali kelihatannya.

Kemudian kita bisa melanjutkan ke bagian lain melewati kios-kios pedagang souvenir dengan nama kios memakai nama bali, seperti kios wayan, kios made, kios nyoman, dan kios ketut. Kalau mau melihat-lihat boleh, apa lagi kalau mau beli, pasti penjualnya senang sekali..he..he..he..

Selanjutnya kita bisa melanjutkan ke terminal safari atau kalau tidak disekitar sana masih bisa melihat-lihat binatang seperti komodo, macan putih, unta, dan lain-lain.

Kalau mau bersafari, maka kita bisa menuju terminal safari. Tak lama menunggu kita akan dijemput oleh bus untuk dibawa berkeliling areal taman untuk melihat koleksi hewan-hewan langka disana. Mulai dari babi rusa, orang utan, tapir, anoa, gajah, banteng, burung unta, macan, singa, kuda nil dan lain sebagainya. Kita akan ditemani oleh seorang pemandu di dalam bus, yang akan menjelaskan mengenai hewan-hewan yang ada disana. Pokoknya seru....

Kalau mau melihat artaksi hewan disana, pada jam 11.00 dan 15.00 ada atraksi gajah, jam 14.00 ada atraksi burung. Kalau mau melihat atraksi gajah kita bisa melihatnya di kampoeng gajah pada jam yang ditentukan tersebut.


Nah, itu dia kisah kami minggu ini. Kalau tertarik menikmati liburan sambil mengenal hewan langka datang aja ke Bali Safari Park, nggak bakalan nyesel dech....

Selamat berlibur...

Selasa, 28 April 2009

Ternyata asyik juga ya..

Hehehehe....
Mau cerita sedikit nich....mau berbagi sedikit kesenangan ya...walaupun hanya secuil kisah hari-hari kemaren, tapi rasanya cukup senang bisa merasakan hal yang baru seperti itu.
Begini ceritanya, bulan lalu saya berhasil menyisihkan sedikit uang, jumlahnya sih nggak banyak cuman 400 ribuan. Trus, saya pikir, kalau uang ini dibiarkan di tabungan di Bank, pasti nggak akan ada penambahan yang berarti, bahkan mungkin berkurang karena potongan biaya administrasi. Nah, trus saya coba untuk mecari peluang agar bagaimana caranya bisa ada tambahan dari uang tersebut. Nah, akhirnya teringat kalau dirumah lagi ada kandang yang kosong, bekas kandang itik yang beberapa bulan lalu mengalami kerugian karena itik banyak yang mati. Trus terlintas di benak saya, kenapa tidak saya coba saja lagi untuk memelihara itik, toh modal 400rb sudah bisa dapat itik 100 ekor. Masalah resiko lihat nanti saja, pikir saya saat itu.
Akhirnya dengan kebulatan tekad, saya beli 100 ekor anak itik seharga Rp.3500 per ekor. Kemudian saya pelihara selama kurang lebih 28 hari dan 21 hari yang akhirnya laku terjual. Karena pembeliannya berselang seminggu, 50 ekor laku terjual Rp.11000 dan Rp.10000, dan yang saya beli belakangan laku terjual Rp.8000 per ekor. Setelah dihitung, biaya pakannya kurang lebih 250 ribuan. Total biaya kurang lebih termasuk modal pembelian itik Rp.600.000 dan total penjualan Rp.972.000.
Jadi kalau dihitung-hitung kasarannya saya dapat untung Rp.372.000 dalam waktu sebulan. Wah, lumayan......daripada tidak sama sekali.
Senang sekali rasanya punya kegiatan lain yang bsa memberi penghasilan tambahan. Tapi bukan saja karena bisa memberikan uang tambahan, ternyata memelihara itik itu benar-benar kegiatan yang mengasyikkan. Stress yang ada di kepala karena pekerjaan kantor rasanya sirna manakala melihat itik-itik itu makan dengan gembiranya. Kegitanan ini ternyata mampu membuat saya bangun lebih pagi ketika saya berada di rumah saat libur. Pokoknya menyenagkan sekali......nggak bisa digambarkan.
Ya, mungkin bagi anda, keuntungan materiil yang saya ceritakan diatas tidak seberapa besar, tapi bagi saya tidak terlalu masalah. Karena kegembiraan yang bisa saya rasakan dari kegitan tersebut bagi saya tida bisa dinilai dengan uang.
Kedepan, rencananya saya akan mengembangkan usaha kecil ini ke arah yang lebih serius agar bisa menambah penghasilan. Semoga tidak ada aral melintang. Astungkara.

Selasa, 21 April 2009

I am back

Waduh...lama banget rasanya nggak buka blog ini, habis beberapa bulan ini sibuk banget ma kerjaan, sampai-sampai nggak ada inspirasi buat nulis disini. Sekarang mau nulis apa ya....masih bingung juga....kok gini ya sekarang, mood nulis ku susah banget munculnya. Pasti ini gara-gara terlalu capek dikejar target kerjaan yang selalu memburu dan penuh dengan ketidakjelasan serta kecarutmarutan....bussseet...cape deh..
Mungkin mulai sekarang, aku akan nulis lagi dech...semoga aja bisa terus ada inspirasi buat dituangkan. Untuk mengawali tulisan di bulan ini, aku mau curhat sedikit nich..moga aja ada yang mau ngebaca & urun pendapat.
Sebelumnya mau tanya nich, buat teman-teman yang tinggal di Bali khususnya Denpasar, apakah kalian merasakan cuaca yang begitu panas khususnya dimalam hari belakangan ini?
Terus terang kalau aku sangat terasa dan sangat terganggu sekali. Setiap malam tidur tidak bisa nyenyak, sebentar-sebentar bangun karena kepanasan. Ujung-ujungnya pakai kipas angin, baru akhirnya bisa tidur. Tapi, setelah sekian kali tidur dengan kipas angin yang menyala semalaman, ternyata ketika bangun paginya badan terasa tidak enak. Kepala terasa berat dan sakit. Tapi kalau tidak pakai kipas angin, jendela aku buka masih juga panas. Kira-kira ada ide nggak buat ngatasi kondisi ini?
Wah..ini pasti pengaruh pemanasan global ya...baru sekian saja panasnya sudah bukan main, apalagi kalau semakin parah ya..bussett.....tak terbayangkan.
Soo...mari selamatkan dunia, cegah pemanasan global. Save Our Planet!! Reboisasi. Kurangi emisi. apa lagi?

Minggu, 15 Maret 2009

Lagi M

Buseeet....
Dah lama banget ga nulis di blog ini, maklum lagi M sich alias lagi males. Maklum, nggak ada ide yang mau dituangkan, nanti kalau dah ada, saya tulis lagi dech...
Sampai jumpa di lain waktu...bye...bye...